
Jember, 25 Agustus 2025 — Sebuah Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Differential Cost Analysis pada Pekerja Migran Indonesia Perempuan: Trade-off antara Keuntungan Finansial dan Biaya Sosial” digelar di Auditorium Lantai 2 ITSM, Jember, pada pukul 09.00–12.30 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Penelitian Dasar Fundamental 2025 yang bertujuan menggali secara mendalam dinamika migrasi perempuan Indonesia sebagai pekerja migran, khususnya dari Kabupaten Jember.
FGD ini menghadirkan beragam peserta, mulai dari mantan pekerja migran perempuan, perwakilan Migrant CARE Jember, hingga kalangan akademisi. Diskusi berlangsung intensif dengan menghadirkan empat narasumber utama:
- Dr. Nurshadrina Kartika Sari, S.E., M.M. Ketua Tim Penelitian Fundamental
- Irwandhani, A.Md., Sub Koordinator Penempatan Tenaga Kerja Kabupaten Jember
- Bambang Teguh Karyanto, Koordinator Wilayah Migrant CARE Jember
- Ibu Holisa, Owner Elisa Rainbow dan mantan pekerja migran yang kini menjadi pelaku usaha pemberdayaan
Dalam pemaparannya, Irwandhani menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap keputusan migrasi, termasuk perhitungan biaya diferensial antara bekerja di luar negeri dan di dalam negeri. “Sering kali keputusan migrasi didorong oleh harapan finansial, namun konsekuensi sosialnya tidak selalu diperhitungkan secara matang,” ujarnya.
Sementara itu, Bambang Teguh Karyanto menyoroti dampak finansial yang diperoleh para pekerja migran, seperti peningkatan pendapatan, remitansi, dan akumulasi aset. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa keuntungan tersebut kerap dibarengi dengan biaya sosial yang tidak ringan, seperti kerinduan terhadap anak, stigma sosial, keretakan keluarga, hingga trauma psikologis.
Ibu Holisa, sebagai narasumber yang juga pelaku migrasi, membagikan kisah inspiratif tentang proses reintegrasi dan transformasi sosial yang ia alami. “Saya pernah mengalami titik terendah, tapi pengalaman migrasi justru menjadi titik balik untuk membangun usaha dan memberdayakan perempuan lain,” tuturnya.
Diskusi ini menghasilkan sejumlah temuan penting terkait dinamika reintegrasi mantan pekerja migran ke komunitas asal. Beberapa peserta mengungkapkan bahwa proses kembali ke masyarakat tidak selalu mulus—ada yang mengalami kegagalan sosial, namun tak sedikit pula yang menjadi agen perubahan dan pemberdayaan.
FGD ini menjadi langkah awal dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan pengalaman pekerja migran perempuan. Penyelenggara berharap hasil diskusi ini dapat memperkaya pemahaman akademik dan mendorong transformasi sosial yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
